Sebagai anak-anak, saya menikmati keriaan yang terjadi saat lebaran haji tiba. Saat di mana keluarga besar berkumpul. Saudara sepupu yang jarang sekali ditemui sehari-hari, menjadi satu semua di hari itu.
Sampai suatu hari, aku dan sepupuku bermain mendekati area kurban selepas shalat ied.
Dan di saat itu pula aku melihat seekor sapi dikurbankan. Sedih aku melihatnya.
Dengan seluruh kaki terikat, dan saat adzan selesai dikumandangkan sapi itu ditebas di lehernya.
Astaghfirullah..
Apalagi ketika saya dengar sesaat sebelum sapi tersebut disembelih, mereka berteriak seolah menangis.
Aduh, ikut menangis hati ini mendengarnya.
Hilang sudah keinginan untuk bermain.
Saya tahu bahwa berkurban itu merupakan satu kewajiban bagi umat islam yang mampu.
Saya tahu bahwa pada jamannya nabi ibrahim merelakan ismail untuk diserahkan kepada Allah,sebagai tanda cinta dan pengabdiannya kepada sang pencipta.
Namun sempat terpikirkan olehku. Apakah semua penyembelihan ini perlu dilakukan? Bukan sayang dengan uang yang harus dikurbankan.
Tapi sebagai seorang muslim, bukankah kita diajarkan untuk saling mengasihi sesama makhluk hidup?
Bukankah lebih baik uang kurban tersebut digunakan untuk kepentingan yang lebih mendasar dan berlangsung lama?
Entahlah.
Hingga kini, setiap kali lebaran haji tiba, keriaan berkumpulnya sanak saudara masih saya gemari.
Dan walaupun kini saya juga melakukan kurban, namun saya nggak pernah punya hati untuk melihat berlangsungnya proses kurban tersebut.
Saya hanya berdoa, semoga semua pengorbanan sapi dan kambing tersebut tidak sia-sia dan bisa diterima Allah SWT.






